Wisata

3 Ritual Adat dan Tradisi Terkenal di Kediri

Kamis, 25 April 2019 | 15:00 WITA

bbn/tribunnews.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Sebagai kota terbesar ketiga di Jawa Timur jika dilihat dari jumlah penduduknya, Kediri terus mengalami kemajuan di berbagai bidang. Meskipun demikian, sebagian masyarakatnya masih mempertahankan tradisi turun-temurun dari para leluhur. 

Pilihan Redaksi

  • 5 Destinasi Wisata Paling "Instagramable" di Semarang
  • Pemkab Sleman Belajar Kiat-Kiat Badung Menjaga Kepariwisataan
  • Pengembangan Desa Wisata Harus Menjadi Kontrol Masuknya Investor
  •  
     
    (sumber : tribunnews.com)
     
    Tradisi-tradisi di Kediri biasanya rutin diadakan setiap tahun atau pada acara khusus. Sebagian ritual adat ini diselenggarakan secara besar-besaran sehingga dapat menarik wisatawan untuk datang ke Kediri. Ingin tahu ritual apa saja yang masih dipertahankan di Kediri? Berikut ulasannya.
     
    1. Upacara menolak bala Jata Suro: Larung Sesaji Gunung Kelud
     
    Setiap tahunnya, ritual adat ini dilakukan di Sugihwaras, Ngancar, Kediri. Biasanya, Larung Sesaji Gunung Kelud diadakan pada bulan Sura. Dulunya, masyarakat melakukan upacara ini di kawah Gunung Kelud, tetapi lokasinya kemudian dipindah ke tepian kawah Anak Gunung Kelud.
     
    Tujuan diadakan Larung Sesaji Gunung Kelud adalah untuk mensyukuri perlindungan Tuhan pada masyarakat sekitar sekaligus menolak bala. Tradisi ini kerap dikaitkan dengan kisah ancaman Jata Suro setelah ditipu oleh Dewi Kilisuci yang berniat dipinangnya.
     
    Dalam ritual Larung Sesaji, masyarakat sekitar Gunung Kelud akan membawa sesaji berupa buah-buahan dan sayur-sayuran. Tak ketinggalan, ada tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya. Setelah didoakan, sesaji ini akan diperebutkan karena dipercaya membawa berkah. Dalam tradisi ini, masyarakat juga akan makan bersama-sama.
     
    2. Upacara meminta hujan yang berubah jadi kesenian: Ritual Tiban
     
    Ritual Tiban diselenggarakan setiap tahun di Kediri dan sekitarnya. Dulu, tradisi ini dilakukan untuk meminta hujan dan dilakukan saat musim kemarau. Saat ini, ritual Tiban berubah menjadi sebuah kesenian dan permainan tradisional. Biasanya ritual ini diadakan untuk menyambut tahun baru Jawa di tanggal satu Muharam.
     
    Diiringi musik gamelan, para peserta yang terdiri dari laki-laki berusia 20-40 tahun akan menari secara berpasangan. Mereka akan bergantian untuk mencambuk satu sama lain. Pecut (cambuk) yang digunakan biasanya dibuat dari lidi daun aren. Ritual Tiban dilakukan di sebuah arena dengan seorang wasit sebagai pengawas.
     
    Para pemain biasanya mengenakan celana hitam dengan kain batik yang dililitkan di pinggang dan udheng sebagai ikat kepala. Sementara itu, bagian atas tubuh dibiarkan terbuka.
     
    Pemain tidak diperkenankan untuk mencambuk area tertentu seperti bagian kepala dan pusar ke bawah. Ritual Tiban memang bukan ditujukan untuk saling menyakiti, melainkan semata untuk melestarikan kesenian daerah.
     
    3. Ungkapan syukur penduduk Desa Doko: Bersih Desa Doko
     
    Di Desa Doko, Kediri, ada sebuah ritual adat yang diadakan rutin setiap tahun. Bersih Desa Doko namanya. Tradisi bersih desa ini dilakukan untuk melestarikan kebudayaan lokal sekaligus mengungkapkan rasa syukur pada Tuhan dan pendiri desa. Biasanya, ritual ini diadakan pada hari Selasa Kliwon, yang dipercaya sebagai hari baik.
     
    Bersih Desa Doko memiliki serangkaian acara. Di malam satu Sura, masyarakat akan menggelar pengajian akbar yang dilanjutkan dengan pembacaan Al-Quran di seluruh masjid dan musala desa. Kemudian, tahlilan akan dilakukan di makam Prabu Anom dan Ki

    Pilihan Redaksi

  • Terkait Kecurangan Rekapitulasi Suara, Bawaslu Bali Minta Bukti
  • KoDe Bali : Tipis Peluang Kecurangan Rekapitulasi di Tingkat PPK
  • Klungkung Libatkan Penyandang Disabilitas Lestarikan Seni-Budaya Melalui Lomba Utsawa Dharma Gita
  • Ageng Doko di timur dan makam Ki Ageng Dhoho di sebelah barat.
     
    Di hari berikutnya, masyarakat Desa Doho akan mengadakan kirab yang dimeriahkan dengan tari-tarian tradisional. Tidak ketinggalan gunungan hasil bumi juga ikut diarak sebelum diperebutkan oleh masyarakat.
     
    Nah, itu tadi beberapa ritual adat terkenal di Kediri. Tertarik untuk melihat langsung tradisi-tradisi menakjubkan ini?
     
    Tak lengkap rasanya jika hanya tinggal sehari di Kota Tahu. Jika tengah mencari hotel di Kediri untuk beristirahat, Airy Rooms bisa jadi solusi terbaik. Selain mudah dan cepat dapat hotel, banyak promo Airy yang sangat menguntungkan. Fasilitasnya pun lengkap dengan AC, televisi layar datar, dan internet gratis. Kalau mampir kota sebelah, Airy juga siap membantu Anda mencari hotel di Blitar kok. Ayo, segera rencanakan liburan Anda. 

    Penulis : Berita Advertorial

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Tradisi Adat Kediri



    Wisata Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending Wisata

    Berita Bali TV